
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan mingguan yang signifikan, mencatatkan penurunan terdalam di kawasan Asia Tenggara selama periode 9 hingga 13 Maret 2026. IHSG ditutup pada level 7.137,21 pada hari Jumat (13/03/2026), mengalami penurunan sebesar 5,91% atau setara dengan 448 poin dibandingkan penutupan pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) juga tergerus hingga Rp949 triliun, sementara investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp1,57 triliun.
Koreksi Pasar Saham: Sebuah Tinjauan
Kusfiardi, seorang analis di bidang Ekonomi Politik Pasar Saham, menjelaskan bahwa penurunan ini merupakan manifestasi dari risiko sistemik yang dihadapi pasar. Hal ini diakibatkan oleh kombinasi faktor-faktor seperti dampak geopolitik di Selat Hormuz, revisi outlook negatif oleh Fitch Ratings, serta tekanan pada nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Dinamika Nilai Tukar Rupiah
Sepanjang pekan 9 hingga 13 Maret 2026, nilai tukar Rupiah menunjukkan gambaran ketidakpastian yang ekstrem. Pasar domestik terpaksa merespons berbagai guncangan baik dari faktor eksternal maupun internal secara bersamaan, menciptakan suasana yang tidak menentu.
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
Pada awal pekan, tepatnya antara 9 dan 10 Maret, Rupiah dibuka pada level Rp16.820. Tekanan terhadap nilai tukar ini semakin meningkat, terutama akibat eskalasi konflik di Selat Hormuz. Pada hari Selasa, setelah revisi outlook dari Fitch Ratings, Rupiah terdepresiasi lebih lanjut menjadi Rp16.910, memicu aliran modal keluar menuju aset yang dianggap lebih aman.
Pada titik nadir yang terjadi pada 11 Maret, hari Rabu menjadi puncak tekanan ketika Rupiah mencapai level terendah intraday, menembus batas psikologis di Rp17.015. Dari perspektif ekonomi politik, hal ini memicu kekhawatiran mengenai inflasi impor yang dapat merugikan daya beli masyarakat.
Konsolidasi dan Intervensi Pasar
Selama periode 12 hingga 13 Maret, terlihat adanya konsolidasi di level Rp16.985 pada hari Kamis, yang menunjukkan adanya intervensi dari otoritas moneter. Pekan perdagangan ditutup pada hari Jumat dengan nilai tukar Rupiah berada di level Rp16.960, menurun 67 poin dari hari sebelumnya.
“Penutupan pada level Rp16.960 memberikan sinyal kepada pasar bahwa kepercayaan terhadap stabilitas makroekonomi sedang diuji. Jika level ini bertahan dalam waktu yang lama, dampaknya terhadap sektor riil melalui lonjakan biaya logistik dan manufaktur tidak bisa dihindari,” ungkap Kusfiardi.
Faktor Global yang Mempengaruhi Pasar
Konflik yang terjadi di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor pemicu utama yang menyebabkan lonjakan harga minyak, baik Brent maupun WTI, yang sempat mencapai US$113 per barel. Sebagai negara yang bergantung pada impor minyak, Indonesia kini menghadapi ancaman pembengkakan subsidi energi. “Ini adalah efek penularan yang dapat mengganggu seluruh rantai pasok serta daya beli masyarakat,” tambah Kusfiardi.
Strategi Investasi di Tengah Volatilitas
Melihat volatilitas yang masih tinggi, Kusfiardi merekomendasikan pendekatan investasi yang lebih defensif. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa dipertimbangkan:
- Rasio Kas: Meningkatkan likuiditas minimal hingga 40% dalam portofolio untuk memberikan fleksibilitas.
- Sektor Defensif: Prioritaskan investasi pada sektor Energi (seperti PERT, MEDC) dan Konsumer Primer (UNVR, ICBP).
- Hindari Sektor Sensitif: Kurangi eksposur pada sektor Properti, Konstruksi, dan Transportasi yang rentan terhadap fluktuasi suku bunga serta pelemahan Rupiah.
- Diversifikasi: Pertimbangkan alokasi pada aset safe haven seperti obligasi pemerintah dan emas fisik.
“Pekan ini merupakan ujian penting bagi IHSG. Jika level support di 7.000 hingga 7.100 dapat bertahan, kita mungkin dapat mengharapkan rebound terbatas. Namun, mitigasi risiko terhadap potensi breakout kembali ke atas Rp17.000 tetap menjadi prioritas utama, mengingat hal ini dapat mengancam stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” tutup Kusfiardi.
➡️ Baca Juga: YSK-VM Dikagumi Atas Dedikasi dalam Memperkuat Ekonomi Rakyat: 1.838 Koperasi di Sulut Telah Terbentuk
➡️ Baca Juga: Startup Indonesia Luncurkan Inovasi di Bidang E-commerce




